Salamualaikum, salam aura kemenangan!
Ba’da tahmid dan shalawat, sedikit saya hendak memberikan perhatian tentang masalah yang menurut saya ini adalah masalah besar yang seakan sudah kita anggap biasa saat ini karena telah lama beredar.
Saya membaca buletin ‘al Islam’ edisi jum’at 19 desember 2008, yang mengangkat tema tentang fatwa haram MUI untuk prilaku golput. menurut pandangan saya yang dhaif ini, bahwa penekanan yang ingin diberikan dalam tulisan itu
Pertama, pada Hidayat Nur Wahid(HNW) penggagas wacana tersebut yang disebutkan sebagai bentuk kerisauan pihak yng berkepentingan dengan politik.
Kedua, bahwa kenyataan golput adalah murni karena mayoritas rakyat tidak lagi percaya dengan pejabat/pemerintah yang korup,semena-mena dan tidak memihak rakyat kecil.
dan yang terakhir, adalah only Syari’ah is the solution!(maaf saya menyebut poin ini bukan saya phobia syari’ah, kualat saya!)
Pada awalnya,-wallahi bukan karena saya kultus sehingga emoh mendengar Hidayat Nur Wahid(HNW) dalam hal ini seorang tokoh yang dikebiri, membacanya, amarah remaja saya bergejolak, saya berpikir kalo bisa organisasi ini disomasi karena tidak lagi memakai, 1. kode etik muslim dalam tawashaw dil haq 2. rasional atau subjektif dalam mengangkat tema. memang background saya ada latar belaang ‘keras’ seperti itu dulu, namun alhamdulillah saya sudah bisa memahami ‘waqi’ud dakwah’ realitas dakwah setelah terjun sendiri merasai onak dirinya.
Saya ingin menyampaikan kepada saudara seakidah di Hizbut Tahrir, apa latar belakang antum seakan antipati terhadapa semua perjuangan yang memakai methode berlainan dengan antum? Bukankah keragaman media dakwah yang dipakai kaum MUslimin adalah warna tersendiri yang menyemarakkan perjuangan kita untuk tegaknya ‘al-haq’ yang sama-sama kita cita-citakan?
Maaf, kalo saya ingin bernostalgia tentang perasaan saya. Saya sangat terenyuh melihat keistiqomahan buletin ‘al Islam’ senantiasa menjumpai kaum Muslimin setiap Jum’at, tak terhitung pengorabanan yang telah dikeluarkan hingga tetap eksis hingga sekarang dengan kritik-kritiknya yang membangun serta info tentang dunia islam. Namun sudah berapa tahun belakangan saya ’seakan’ menangkap cara yang dipakai tidak lagi bisa dibilang ‘ishlahu masthatho’tu’ seperti istilah yang dipakai Nabiyullah Syu’aib. Saya melihat setiap langkah dan kebijakan pemerintah selalu saja ada kelemahan dan aibnya. ya! saya juga setuju dengan idealis seperti itu. tapi apakah antum hendak mengambil langkah total bersebrangan dengan pemerintah?(yang notabene masih Muslim) bukankah itu berbahaya bagi dakwah itu sendiri wahai du’at?
Saya melihat kritikan ‘Al ISlam atas usaha memperjuangkan UU Pornografi yang dilakukan pemerintah itu tidak layak. karena walau bagaimana pun juga itu adalah ’sebentuk’ usaha kita dan mereka untuk meminimalisir bahaya dan kemirisan kita akan degradasi moral anak-anak kita, generasi penerus Indonesia. tentu sebaiknya walau kita tahu memang langkah itu tidak terlalu berpengaruh mengentaskan pornografi. namun alangkah baiknya kita mengapresiasi usaha mereka.
Saya senang skali dengan ‘Al Islam’ ketika beberapa waktu lalu mengangkat tema tentang kisah tragis perjuangan Muslimah mempertahankan hijab/jilbab. Ya Allah, terasa sejuk sekali, seakan duka itu kita rasai bersama, seakan tidak pernah ada sekat diantara kita, terbersit dari sana optimisme untuk bahu-membahu membela agama tercinta ini, karena kita satu prinsip tentang hal itu.
Benar akhi, Saya senang sekali ketika membaca edisi itu!
Saya tidak hendak sedang mengecam atau menggurui atau mungkin mamancing masalah. letih kita energi habis kedalam, mana untuk umat? Memang benar Golput adalah karena rakyat melihat pemerintah tidak bisa dipercaya dan bermental korup, lebih memihak kalangan berduit. Namun bukankah itu karena kursi pemerintah itu masih dipegang oleh orang-orang yang bermental seperti itu? tidakkah antum melihat realitas itu yang terjadi sekarang dan itulah sumber masalah kita akhi. Bagaimana kalo kita mengubah cara pandang kita bahwa kita harus menguasai mayoritas kekuasaan tersebut sehingga kita sedikit(sekemampuan kita) membenahi tanah air tercinta ini, Negerri dengan kaum Muslimin terbesar di dunia, yang harapan Muslim Dunia tertuju kepada kita sebagai kakak tertuanya.
Akhi kalo kita dapati bahwa pilkada yang ada(yang katanya sekali 3 hari) MAKA ITU ADALAH MASLAHAT YANG TERBAIK YANG TERSEDIA pada saat ini untuk meminimalisir sistem diktator atau monarki yang melanda banyak negara di dunia saat ini. Bukankah kita juga pernah merasainya dahulu sebelum reformasi?(nanti dulu kalo kemudian antum mempermasalahkan penobatan guru bangsa yang disematkan kepada mantan diktator tersebut, karena itu beda temanya) Bukankah dalam kaedahnya kita harus mengambil mudhorot yang lebih kecil dari mudhorot yang besar? ya memang demokrasi walaupun tidak mutlak benar, namun salah satu kebaikan sistem ini adalah untuk menghilangkan diktator dan kerajaan absolut di dunia saat ini. Dan itu kongkrit kita rasakan.
Bagaimana rasionalitas “dengan menguasai pemerintah kita bisa menegakkan amar makruf?” silahkan saja antum tanya kepada mantan wali kota Padang(mungkin juga terpilih lagi sekarang) ketika Ia berhasil memutihkan lingkungan sekolah-sekolah negri di kota itu dengan balutan jilbab para siswinya.
Akhi, ana adalah antum, dan antum adalah ‘pernah’ ana jugaJ. penyatuan organisasi Islam adalah sesuatu mustahil hingga akhir Zaman kelak, tapi ada kaedah yang sangat indah sekali “kita saling bertoleransi terhadap masalah yang kita perselisihkan, dan saling tolong menolong atas masalah yang kita sepakati”
Wallahu muwaffiq ilaa ahsana thoriq.
akhukum Hasbi ash Shidqi
friendster.com/brorobbaniy
